WAHANA BUDIDAYA CENDANA & GAHARU

Berita

view:  full / summary

Warga Oelomin Kembangkan Anakan Cendana

Posted by s edo wd on February 28, 2011 at 4:47 AM Comments comments (1)

 

kupang.tribunnews.com

 

Ditemui Pos Kupang, Senin (22/3/2010), Tinus Ola, salah seorang warga Oelomin, mengatakan, usaha pengembangan tanaman itu sudah digeluti sejak tahun 2002 silam.

 

Benih berupa biji cendana dibeli dari petani di SoE, kemudian disemaikan di Oelomin untuk selanjutnya dijual. "Saya dengan kakak yang mengembangkan usaha ini. Kami siapkan bibit cendana lalu dijual," ujarnya.

 

Dia menjelaskan, saat memulai usaha itu, mereka membeli biiji cendana di TTS dengan harga Rp 150.000,00/kg. Namun saat ni, harga benih itu sudah melonjak mencapai Rp 400.000,00/kg.

 

Tentang banyaknya anakan yang dikembangkan, dia mengatakan, dalam satu kilogram biji cendana, bisa menghasilkan 1.000 anakan. Tapi kalau ada yang mati, berarti masih sekitar 800 hingga 900 anakan.

 

"Biasanya, satu kilogram biji cendana itu kami semaikan dan kalau tumbuh bagus, akan menghasilkan 1.000 anakan. Tapi kalau ada yang mati, karena biji kurang bermutu, biasanya yang hidup sekitar 800 sampai 900 anakan," tuturnya.

 

Ditanyai harga satu anakan cendana di setiap polibag, Ola menyebutkan antara Rp 10.000,00 hingga Rp 15.000,00/polibag. Harga ini relatif murah dan dapat dijangkau oleh semua kalangan.

 

Selama ini, lanjut dia, pembelian anakan cendana itu selain dari masyarakat, juga dari pemeritah daerah melalui proyek pengadaan bibit anakan cendana. 

 

"Tahun lalu ada yang beli sampai 1.000 anakan. Sedangkan Pemerintah Propinsi NTT tahun 2008 beli sebanyak 5.000 anakan. Tanaman ini juga dibeli untuk dibawa ke luar NTT. bahkan pihak Undana dan LIPI juga beli dari kami," jelasnya.

 

Menurut Ola, usaha budidaya tanaman itu membutuhkan ketekunan dan ketabahan. Pasalnya, jika tidak dirawat dengan baik,  maka tanaman itu akan mati.

 

Soal bibit cendana yang pas ditanam, ia mengatakan, umur idealnya terhitung mulai dari pemindahan dari persemaian ke polibag, membutuhkan waktu lima hingga enam bulan.

 

"Umur ideal anakan di polibag saat kami jual, rata-rata lima bulan sampai  enam bulan. Tahun lalu banyak permintaan, tapi ia belum tahu permintaan tahun ini. Mudah-mudahan lebih baik lagi," ujar Ola.

 

Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, ketika menggelar rakor dengan para bupati/walikota se-NTT di Aula Utama El Tari, Jumat (19/3/2010), menyebutkan, pemerintah akan memfokuskan pengembangan tanaman cendana di NTT.

 

"Pemerintah akan kembangkan tanaman cendana ini pada tujuh kabupaten sebagai kabupaten perrintis. Tujuh kabupaten  itu, yakni Kupang, TTS (Timor Tengah Selatan), TTU (Timor Tengah Utara), Belu, Sumba Timur, Flores Timur dan Kabupaten Alor," ujar Lebu Raya.

 

Dia menjelaskan, target pengembangan tanaman ini  126 hektar (ha) per tahun dengan rincian setiap desa mengusahakan 25 ha. Upaya ini sebagai wujud keseriusan pemerintah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membudidayakan cendana. (editor kro)


Perbanyakan Cendana (Santalum album Linn.) secara Kultur In-vitro dengan Pemberian Zat Pengatur Tumbuh Sitokinin (BAP dan Kinetin)

Posted by s edo wd on December 29, 2010 at 10:08 AM Comments comments (0)

Cendana (Santalum album Linn.) merupakan hasil hutan kayu yang khas dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Timor Timur (Timtim). Tanaman ini mempunyai nilai ekonomis tinggi, karena dapat menghasilkan minyak atsiri dengan aroma spesif1k, sebagai bahan dasar parfum, sabun dan kemenyan serta mempunyai khasiat sebagai obat pereda kejang, mual dan demam. Keberadaan Cendana sekarang merupakan tanaman langka, hal ini tercatat dalam IUCN Red List 1994 merupakan Threatened Species. Oleh sebab itu segera dilakukan tindakan budidaya, salah satunya melalui kultur in-vitro dengan pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) Sitokinin yaitu BAP (6-benzylaminopurine), Kinetin (6¬furfurylaminopurine) dan kombinasinya. Supaya mendapatkan perbanyakan Cendana optimal, maka penelitian ini perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian zat pengatur tumbuh kelompok Sitokinin yaitu BAP, Kinetin atau kombinasinya pada perbanyakan Cendana.

 

Kegiatan Penelitian berlangsung di Unit Kultur Jaringan Laboratorium Konservasi Tumouhan Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB, selama 5 bulan mulai dari bulan Mei sampai September 2005. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 1 faktorial yaitu pemberian ZPT berupa BAP, Kinetin dan kombinasinya, diberikan pada media Murashige and skoog (MS) terdiri atas 10 perlakuan dengan masing-masing perlakuan 10 ulangan. Perlakuan Al (BAP 0 mg/I : Kinetin 0 mg/I), A2 (BAP 0.5 mg/I : Kinetin 0 mg/I), A3 (BAP I mg/I : Kinetin 0 mg/I), A4 (BAP 1.5 mg/I : Kinetin 0 mg/I), AS (BAP 2.0 mg/I : Kinetin 0 mg/I), A6 (BAP 0 mg/I : Kinetin 0.2 mg/I), A7 (BAP 0.5 mg/I : Kinetin 0.2 mg/I), A8 (BAP 1.0 mg/I : Kinetin 0.2 mg/I), A9 (BAP 1.5 mg/I : Kinetin 0.2 mg/I), dan AIO (BAP 2.0 mg/I : Kinetin 0.2 mg/I). Peubah-peubah yang diamati dan diukur adalah pengamatan visual, jumlah tunas, jumlah buku, tinggi dan jumlah daun.

 

Berdasarkan hasil pengamatan visual terjadi kontaminasi, namun cukup rendah sebesar 17%. Eksplan berupa pucuk yang digunakan menunjukan gejala pencoklatan terutama pada bagian yang dipotorig. Terdapat pertumbuhan kalus, namun tidak mendominasi pada setiap perlakuan, hanya terdapat pada beberapa eksplan pada perlakuan A9 (BAP 1.5 mg/I : Kinetin 0.2 mg/I). Kerontokan daun terjadi hingga mencapai presentase 15.61%, kemudian dilakukan tindakan subkultur dengan dilakukan penambahan Glutamin sebanyak 100 mg/I pada media. Persentase rata-rata kerontokan daun mengalami penurunan sebesar 6.70%.

 

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian ZPT Sitokinin yaitu BAP memberikan pengaruh berbeda sangat nyata, sedangkan Kinetin dan kombinasinya tidak memberikan pengaruh terhadap jumlah tunas. Nilai rata-rata

 

pertambahan jumlah tunas terbesar terdapat pada perlakuan A9 yaitu media MS dengan penambahan BAP1.5 mg/I dan Kinetin 0.2 mg/I dengan angka sebesar 1.40, sedangkan nilai rata-rata terendah terdapat pada perlakuan Al (BAP 0 mg/I : Kinetin 0 mg/1) dan A3 (BAP 1 mg/1 : Kinetin 0 mg/1) dengan angka sebesar 0.00.

 

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian ZPT BAP memberikan pengaruh berbeda sangat nyata, sedangkan Kinetin dan kombinasinya tidak memberikan pengaruh terhadap pertambahan jumlah buku. Nilai rata-rata pertambahan jumlah buku terbesar terdapat pada perlakuan A9 (BAP 1.5 mg/I : Kinetin 0.2 mg/I) yaitu 4.40, sedangkan pada perlakuan A6 (BAP 0 mg/I : Kinetin 0.2 mg/I) memberikan pengaruh terhadap rata-rata pertambahanjumlah buku terendah sebesar 1.50.

 

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian ZPT BAP memberikan pengaruh berbeda sangat nyata, Kinetin memberikan pengaruh tidak berbeda nyata dan kombinasinya memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap tinggi eksp1an. Dapat dilihat nilai rata-rata pertambahan tinggi terbesar terdapat pada perlakuan A9 yaitu media MS dengan penambahan kombinasi BAP 1.5 mg/1 dan Kinetin 0.2 mg/I menunjukkan angka pertambahan tinggi sebesar 1.40 em, sedangkan nilai rata-rata pertambahan tinggi terendah terdapat pada perlakuan A6 dengan pemberian Kinetin 0.2 mg/1 menunjukkan angka pertambahan 0.48 em.

 

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian ZPT BAP, Kinetin dan kombinasinya memberikan pengaruh terhadap pertambahan jum1ah daun tahap ke-1. Rata-rata pertambahan tinggi terbesar terdapat pada perlakuan A3 yaitu Media MS dengan penambahan BAP 1 mg/I dengan angka pertambahan sebesar 13.20 helai, sedangkan nilai rata-rata terendah terdapat pada perlakuan A6 (BAP 0 mg/I : Kinetin 0.2 mg/I) dengan angka sebesar 2.80 helai.

 

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam pemberian ZPT Kinetin memberikan pengaruh berbeda sangat nyata, sedangkan BAP dan kombinasinya tidak berpengaruh terhadap pertambahan jum1ah daun pada tahap ke-2 pengamatan. Rata-rata pertambahan jumlah daun terbesar' terdapat pada perlakuan A4 yaitu media MS dengan penambahan BAP 1.5 mg/I dengan nilai sebesar 4.30 he1ai, sedangkan pertambahan jumlah daun terendah terdapat pada perlakuan A6 (BAP o mg/I : Kinetin 0.2 mg/1) dengan ni1ai 0.50 helai.

 

Seeara umum perlakuan A9 dengan pemberian ZPT kombinasi yaitu BAP 1.5 mg/I dan Kinetin 0.2 mg/I menunjukkan nilai rata-rata pertambahan terbaik pada peubah jum1ah tunas, jumlah buku dan tinggi eksp1an Cendana. Rata-rata pertambahan jum1ah daun tahap ke-1 ni1ai tertinggi terdapat pada perlakuan A3 dengan pemberian BAP konsentrasi 1 mg/1, sedangkan pertambahan jum1ah daun tahap ke-2 nilai tertinggi terdapat pada perlakuan A4 dengan BAP konsentrasi 1.5 mg/I. Penambahan Glutamin 100 mg/1 pada media dengan penambahan BAP dan Kinetin berhasil mengurangi kerontokan daun.

sumber:

http://eshaflora.blogspot.com/2010/04/perbanyakan-cendana-santalum-album-linn.html

 


 

Gaharu : Pohon Eksklusif Akan Diproduksi secara Lestari di Indonesia

Posted by s edo wd on December 28, 2010 at 8:04 PM Comments comments (1)

Indonesia merupakan negara produsen gaharu terbesar di dunia dengan kualitas terbaik. Pohon-pohon gaharu penghasil gubal (bagian terdalam dari batang pohon gaharu yang warnanya hitam, coklat hitam, coklat kemerahan dengan keharuman yang kuat) terbaik yang sangat sesuai dengan kondisi produksi alami di Indonesia mungkin sudah punah. Yang tertinggal adalah pohon-pohon yang memiliki sifat kerentanan yang lebih tinggi.

Gaharu merupakan komoditi elit hasil hutan bukan kayu yang saat ini diminati oleh konsumen baik dalam maupun luar negeri. Gaharu atau agarwood, aleawood, eaglewood dan jinkoh memiliki nilai jual tinggi. Kelangkaan pohon gaharu di hutan alam menyebabkan perdagangan gaharu asal semua spesies Aqularia dan Grynops di atur dalam CITES (Convention on International trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) dan ekspornya dibatasi dalam kuota.

 

Saat ini, Indonesia diposisikan untuk mengambil peran aktif dalam menyelamatkan produksi gaharu dengan mengalihkan produksi gaharu alam ke gaharu buatan. Dengan demikian di masa yang akan datang, Indonesia akan memasuki era gaharu budidaya atau mengambil kata yang lebih popular gaharu “non-CITES quota”.

 

Dengan mengambil tema “Menuju Produksi Gaharu secara Lestari di Indonesia”, Fakultas Kehutanan dan Fakultas MIPA IPB bekerjasama dengan Departemen Kehutanan RI dan didukung oleh Sinarmas Forestry, Perhutani, International Timber Trade Organization, Asgarin dan Yayasan Kehati menggelar Seminar Nasional I Gaharu di IPB International Convention Center (12/11). Tema ini diambil sebagai ekspresi dari keprihatinan masyarakat pemerhati gaharu terhadap tuntutan dunia akan pentingnya produksi gaharu yang lestari di Indonesia.

 

Hadir dalam acara ini, Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, SE, MM, untuk membuka acara, didampingi Wakil Rektor bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB, Prof.Dr.Ir. Yonny Koesmaryono, Dekan Fakultas Kehutanan IPB, Dr. Hendrayanto, Dekan Fakultas MIPA IPB, Dr. Hasim, pejabat dari Dephut RI, peneliti, dan pemerhati gaharu Indonesia.

Menhut mengatakan kekayaan alam Indonesia harus kita lestarikan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. “Selama ini bagi hasil dari produksi gaharu selalu merugikan petani gaharu. Misal dari hasil penjualan gaharu 40% untuk pemilik modal, 20% untuk pemberi ijin,  sisanya untuk proses produksi dan petani. Ini tidak akan mensejahterakan rakyat,” tambahnya.

 

Mengingat pengumpul gaharu alami adalah penduduk penghuni sekitar hutan, maka sistem produksi yang akan dikembangkan sebaiknya berbasis masyarakat tepian hutan. Oleh sebab itu tata kelola wilayah yang memberikan insentif pada masyarakat tepian hutan perlu dipertimbangkan.

 

“Pohon gaharu pasarnya sangat besar. Gaharu yang mengandung “damar wangi” dan bila dibakar mengeluarkan aroma yang khas dapat diolah menjadi minyak gaharu, cindera mata, dupa makmul dan hio, parfum, obat-obatan dan untuk bahan kosmetik. Negara-negara dengan jumlah penduduk yang besar seperti China, India, Pakistan, Bangladesh, Thailand adalah pasar gaharu. Sehingga gaharu perlu dilestarikan dan yang mengembangkannya harus pakar-pakar dari IPB,” ujarnya saat diwawancara.

Sejak tahun 2003, kuota ekspor gaharu menurun terus menjadi sekitar 125 ton/tahun untuk tiap species. Dalam batasan kuota ini, produksi hanya dapat memenuhi sekitar 10-20% permintaan pasar, sehingga peluang pasar masih terbuka.

 

Menhut menambahkan untuk menjaga kelestarian alam sekaligus keberlanjutan ekspor, selain harus dikonservasi, gaharu juga harus diproduksi secara buatan pada pohon gaharu hasil budidaya. Pohon gaharu telah ditanam lebih dari 1750 ha di seluruh Indonesia dan ini menjadi modal dasar menuju produksi gaharu secara lestari di Indonesia.

Sementara itu, produksi gubal gaharu melibatkan mikroorganisme (sejenis cendawan yakni fusarium dan acremonium). Mekanisme pembentukan oleo resin (damar wangi) gaharu merupakan hasil interaksi antara pohon dan mikroorganisme tadi.

Dengan proses budidaya, petani menyuntikkan cendawan ke batang pohon gaharu saat umurnya menginjak lima tahun. Dari infeksi cendawan tersebut, pohon gaharu melakukan perlawanan dengan mengeluarkan senyawa oleo resin.

 

Satu kilogram gubal gaharu dengan kualitas terbaik dijual dengan harga 30 juta rupiah. Gaharu jenis Aquilaria malaccensis daerah penyebarannya di Sumatera (10 pohon/ha) dan Kalimantan (9 pohon/ha). Untuk jenis Aquilaria filarial daerah penyebarannya di Papua (60 pohon/ha), Maluku (30 pohon/ha) dan Sulawesi (7 pohon/ha). Dan untuk jenis Gyrinops sp daerah penyebarannya di NTB (8 pohon/ha) dan NTT (7 pohon/ha). 

Sumber: http://www.ipb.ac.id  ; /  http://www.asahangaharu.blogspot.com/


NTT Tanam 4.750 Bibit Cendana

Posted by s edo wd on March 21, 2010 at 11:55 PM Comments comments (0)

Bibit cendana


KUPANG, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengembangkan 4.750.000 anakan pohon Cendana untuk mencegah kepunahan pohon beraroma wangi itu di bumi Flobamora, sebutan khasuntuk Flores, Sumba, Timor dan Alor.

    

"Pengembangan anakan cendana itu difokuskan pada tujuh kabupaten di NTT yang endemik Cendana," kata Gubernur NTT Frans Lebu Raya di Kupang, Minggu (21/3/2010), terkait upaya pemerintah untuk mengembalikan kejayaan NTTsebagai daerah penghasil Cendana di Tanah Air.

    

Gubernur Lebu Raya menguraikan, dari jumlah anakan tersebut, 2.800.000 anakan diantaranya akan dikembangkan pada lahan masyarakat seluas sekitar 3.500hektar yang menyebar di tujuk kabupaten tersebut. Sedangkan, 1.950.000 anakan Cendana sisanya untuk memenuhi kebutuhan dalam rangka mendukung gerakan massal menanam Cendana di semua kabupaten/kota di NTT.

    

Lebu Raya menjelaskan tujuh kabupaten endemik yang akan menjadi sasaran pengembangan tanaman Cendana adalah Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Sumba Timur, Belu, Flores Timur dan Alor.

    

"Langkah ini kami ambil untuk mencegah kepunahan kayu beraroma wangi itu di bumiNTT yang terkenal sebagai daerah penghasil Cendana terbesar di Indonesia," katanya.

    

Menurut Gubernur Lebu Raya, populasi kayu Cendana di wilayah provinsi kepulauan NTT yang berbatasan langsung dengan Timor Leste dan Australia itu, berkurang dratis bahkan cenderung mengarah pada kepunahan. Kondisi ini terjadi karena adanya kebijakan pengelolaan Cendana pada masa lalu yang kurang berpihak pada masyarakat lokal, sehingga masyarakat enggan untuk menanam atau membudidayakan kembali tanaman Cendana.

    

"Kami semua tahu populasi Cendana di daerah ini sudah sangat berkurang dan terancam punah. Kami tidak bisa berdiam diri menyaksikan kepunahan Cendana. Mari kita sama-sama dalam satu tekad mengembalikan keharuman Cendana di daerah ini," kataLebu Raya.

    

Menurut Gubernur Lebu Raya, rencana pengembangan Cendana ini tidak bisa dilakukan secara parsial, tetapi terfokus dengan sasaran lima desa setiap kabupaten endemik. "Setiap desa dibentuk satu kelompok beranggotakan 20 orang dengan tugas khusus untuk merawatanakan Cendana itu sampai panen," katanya.

    

Target pengembangan untuk setiap kabupaten, kata dia, rata-rata 125 hektare per tahun dengan perincian per desa seluas 25 hektare per tahun. Mengenai penyediaan bibit Cendana, dia mengatakan, bibit cendana akan disediakan melalui dana APBD II.

    

Pada tahun 2010, setiap kabupaten akan menyediakan bibit sebanyak 100.000 kecuali Flores Timur84.000. Sementara mulai tahun anggaran 2011-2012, semua kabupaten wajib menyediakan bibit sebanyak 100.000 anakan setiap tahun melalui APBD II dan akan didukung dengan dana APBD I, APBN dan bantuan lainnya seperti LSM, dunia usaha dan masyarakat.

    

Dia menambahkan untuk mendukung rencana pemerintah ini memang perlu ada gerakan untuk menyadarkan masyarakat tentang pengelolaan Cendana dengan cara meningkatkan kesadaran aparatur pemerintah dan masyarakat terhadap status, fungsi dan nilai penting dari Cendana.

 

sumber disini

BI BANDARLAMPUNG TANAM POHON LANGKA

Posted by s edo wd on March 19, 2010 at 9:25 PM Comments comments (0)

Badarlampung, 17/3 (Antara/FINROLL News) - Kantor Bank Indonesia (KBI)Bandarlampung akan melakukan penghijauan kota, antara lain dengan menanam pohon-pohon langka.

 

Pemimpin KBI Bandarlampung, Muhammad Dakhlan, didampingi Analis Muda Senior BI setempat, Aksuar Muri, mengatakan, di Bandarlampung, Rabu, penanaman pohon itu akan diawali di lahan lingkungan rumah dinas pemimpin BI setempat di kawasan Pahoman, Kota Bandarlampung.

 

"Penanaman pohon langka untuk penghijauan itu akan dilakukan Rabu siang, bertepatan dengan peringatan HUT ke-46 Provinsi Lampung yang jatuh pada tanggal 18 Maret tahun 2010," katanya.

 

Pemimpin BI Bandarlampung itu menjelaskan, di antara pohon yang tergolong langka itu adalah bibit pohon damar mata kucing, pohon gaharu, pohon cendana, dan lainnya.

 

Aksuar Muri menambahkan, pada penanaman awal itu baru akan ditanam sekitar 50 batang pohon, namun akan segera disusul dengan penanaman dalam jumlah yang lebih besar dan para areal yang lebih luas.

 

"Ibarat lampu listrik, penanaman pohon langka kali ini baru sebatas sebagai saklarnya. Kalau saklar ditekan, maka lampu akan terus menyala," katanya.

 

Menurut Aksuar pula, setelah penanaman tahap awal yang dilakukan olehpara pejabat, karyawan/ti KBI Bandarlampung, ke depan akan dilakukan oleh para pejabat, karyawan/karyawati perbankan di seluruh Lampung.

 

"Kalau semua karyawan bank di Lampung menanam pohon, bisa dibayangkan berapa banyak nanti yang akan ditanam," katanya.

 

Dia juga mengharapkan, agar setelah ditanam, pohon-pohon langka itu bisa dirawat dan tumbuh dengan baik, sehingga bisa bermanfaat sebagai upaya memelihara kelestarian lingkungan hidup.

 

"Upaya menanam pohon penghijauan ini selain dalam rangka memperingati HUT ke-46 Provinsi Lampung, juga bhakti sosial sebagai salah satu wujud bahwa BI Bandarlampung juga peduli terhadap masalah lingkungan hidup,"demikian Aksuar Muri. 

 

sumber

Cara Menanam Pohon Cendana

Posted by s edo wd on March 18, 2010 at 2:20 PM Comments comments (12)


biji cendana

 

1.Rendam biji selama 2 malam / 48jam di dalam ember yang berisi air setengah ember. Setelah 2 hari perhatikan kondisi biji. Pisahkan biji yang tenggelam dan yang terapung karena biji yang tenggelam adalah yang berkualitas tinggi, sedangkan yang terapung adalah kurang berkualitas.

2. Sediakan semaian menggunakan tanah hitam yang telah digembur.

3. Taburkan biji yang telah direndam 2malam keatas semaian yang telah disiram (basah) dengan rata kemudian taburkan sedikit tanah hitam keatas biji. Pastikan tanah tidak menutupi keseluruhkan biji tadi.

4. Siram 2 kali sehari yaitu pagi dan sore, ini untuk mempercepat proses percambahan.

5. Sediakan Polibag kecil dengan menggunakan media tanah hitam.

6. Perhatikan semaian setiap hari, jika ada biji yang pecah dan keluar sedikit tunas,cepat-cepat pindahkan ke dalam polibag dengan cara mengorek biji bersama dengan tanah dan masukkan ke dalam polibag yang telah disiram (basah). Ulangi ini sehingga semua biji yang pecah habis dipindahkan ke polibag.

7. Setelah dipindahkan ke dalam polibag, siraman cuma perlu 2hari sekali, dan tempatkan polibag ditempat yang terlindung dari cahaya matahari yang terik.

8. Benih dapat ditanam ke tanah setelah tinggi 15cm atau lebih.

Anak pohon Cendana tidak memerlukan kawasan yang terlalu bersih, ia lebih suka di sekeliling semak atau ia tumbuh subur dibawah lindungan pohon2 tinggi. Seperti di dalam kebun karet / kebun buah-buahan.

9. setelah tinggi pohon Cendana mencapai 3m, bagian pucuk perlu berbunga / dipotong terus, ini adalah bertujuan pohon tidak tumbuh terlalu tinggi dan kualitas / cabang dapat diperlihara.

10. Pohon cendana matang pada tahun ke-8.


 


Gaharu Hybrid (Aquilaria mallcrassna)

Posted by s edo wd on March 18, 2010 at 5:30 AM Comments comments (4)

       


Telah hadir hybrid gaharu yang disebut Aquilaria malcrassna. Hybrid gaharu ini dihasilkan dari perkawinan antara Aquilaria malaccensis (induk betina) x A. crassna (Jantan). Penetapan hybrid didasarkan ukuran biji yang berbeda dari ke dua induknya. Semoga kehadiran hybridini akan menambah kekayaan aroma wangi dupa gaharu di masa datang.

Pengembangan Tanaman Cendana

Posted by s edo wd on March 17, 2010 at 12:58 AM Comments comments (1)

Cendana

Santalum album L.


Nama umum

Indonesia:Cendana

Klasifikasi

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)

     Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

         Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

             Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

                 Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

                     Sub Kelas: Rosidae

                         Ordo: Santales

                             Famili: Santalaceae

                                 Genus: Santalum

                                     Spesies: Santalum album L.



Pemilihan Umum 2009 memiliki asas One Man One Vote. Bersamaan dengan momentum Pemilu 2009, Presiden menargetkan, bangsa Indonesia harus bisa menanam One Man One Tree yang sudah dimulai sejak awal Februari 2009.Kegiatan menanam pohon sebetulanya sudah dimulai sejak tahun 2007.Targetnya pun berbeda setiap tahunnya. Tahun 2007, harus menanam 79juta bibit pohon, realisasinya 86,9 juta pohon. Berikutnya, pada 2008, target 100 juta bibit pohon, ternyata berhasil menanam 109 juta pohon.Tahun 2009 ini targetnya, sesuai dengan jumlah penduduk Indonesia, 230 juta jiwa, Bangsa Indonesia harus menanam sebanyak 230juta pohon.

Berkaitan dengan One Man One Tree, tanggal 12 Februari 2009 lalu, Menteri Kehutanan, M.S. Kaban bersama Gubernur Nusa Tenggara Timur telah melakukan penanaman dan pencanangan pengembangan tanaman Cendana. Penanaman Cendana ini dilakukan di Desa Ponai, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pertimbangan menanam Cendana diDesa Ponai, selain kondisi dan waktu, juga didukung musim hujan masih sangat baik. Akses jalan menuju lokasi pun cukup baik. Selain itu, diDesa Ponai telah ada Kelompok Tani Cendana binaan Balai Penelitian Kehutanan Kupang yang bekerjasama dengan Lembaga Penelitian Universitas Nusa Cendana. Program rehabilitasi pohon Cendana di Nusa TenggaraTimur, adalah prakarsa Menteri Kehutanan di tahun 2006.

Saat pencanangan, telah dipersiapkan areala seluas 1,7 hektar dan bibit Cendana sebanyak 1.200 batang. Sebelumnya, pada minggu ketiga, Desember 2008 telah ditanam sebanyak 7.700 bibit Cendana yang disiapkan BPK Kupang dan Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan PemuliaanTanaman Hutan (B2PBPTH) Yogyakarta di areal seluas 5,3 hektar dipekarangan dan kebun Masyarakat.

Untuk kesiapan bibit, sampai dengan September 2008, bibit generatifdi BPK Kupang sebanyak 10.000 batang dan siapa tanam pada bulan Desember 2008 . Sementara, BPDAS Benain Noelmina Kupang, juga memiliki bibit generatif sebanyak 20.000 batang yang siap ditanam pada bulan Desember 2008 lalu.

Sedangkan bibit vegetatif dengan kultur jaringan, B2PBPTH Yogyakarta telah menyiapkan sebanyak 700 batang dan siap tanam pada pertengahan tahun 2009 ini. Sementara bibit Cendana dengan kultur jaringan dari Puslit Bioteknologi LIPI saat ini baru dalam tahap multiplikasi dan baru siap tanam pada akhir tahun 2009 nanti.

Tanaman ini bisa tumbuh pada ketinggian 50 -1200 m dpl, dengan curah hujan 625 1625 mm/th dengan bulan kering 9-10 bulan. Saat ini populasi Cendana sangat mengkhawatirkan, terancam punah. Dari tahun 1987 – 1997,populasi pohono Cendana di NTT mengalami penurunan hingga 53,96%.

Kata Cendana, identik dengan wewangian untuk perawatan tubuh wanita.Ada minyak Cendana, rempah-rempah, aromatherapy, campuran parfum ataubahan dupa. Cendana adalah tumbuhan asli Indonesia yang tumbuh diPropinsi Nusa Tenggara Timur, seperti Pulau Timor, Sumba, Alor, Solor,Pantar, Flores, Roti dan pulau-pulau lainnya. Cendana juga bisa dijumpai di Gunung Kidul, Imogiri, Kulon Progo, Bondowoso dan Sulawesi.

Cendana adalah, tanaman komoditi dan potensial bagi perekonomian diIndonesia. Nilai ekonomi itu didapat dari kandungan minyak (santalo) dalam kayu yang beraroma wangi yang khas. Melalui penyulingan, minyak Cendana dapat digunakan sebagai perawatan tubuh, obat-obatan dan bahan minyak wangi atau parfum tadi. Kayunya juga bernilai ekonomi, dapat digunakan sebagai kerajinan ukiran, patung, kipas, tasbih dan lain-lain.

Saat ini minyak Cendana banyak di ekspor ke Eropa, Amerika, China,Korea, Taiwan dan Jepang. Untuk produk kerajinan kayunya, masih untuk konsumsi dalam negeri saja. Setiap tahun, kebutuhan minyak Cendan dunia, sekitar 200 ton. Dari jumlah tadi, kebanyakan disuplai dariIndia, yaitu 100 ton (50 %). Sisanya dari Indonesia, Australia,Kaledonia Baru dan Fiji, masing-masing mensuplai 20 ton, jadi masing kekurangan sekitar 80 ton per tahunnya.

Jadi, Indonesia masih punya peluang untuk memenuhi kebutuhan Cendana dunia.

Sumber: menlh.go.id, sini

 


Departemen Kehutanan Kembangkan Teknologi Penghasil Gaharu Kualitas Super

Posted by s edo wd on March 17, 2010 at 12:14 AM Comments comments (10)

SIARAN PERS

Nomor : S.213/PIK-1/2008

DEPARTEMEN KEHUTANAN KEMBANGKAN TEKNOLOGI PENGHASIL GAHARU KUALITAS SUPER


Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Departemen Kehutanan berhasil menemukan teknologi produksi gaharu yang mampu menghasilkan gaharu dengan kualitas AB yang mempunyai harga jual tinggi. Kualitas ini masih dapat ditingkatkan apabila waktu pemanenan diperpanjang sehingga dapat menghasilkan gaharu kualitas super.

Gaharu kualitas AB tersebut dihasilkan pohon yang diinduksi selama 2 tahun. Pohon tersebut dapat menghasilkan gubal gaharu 4 kilogram kualitas AB dan 8 kilogram kualitas kemedangan. Dari hasil panen tersebut diperkirakan nilai jual sebatang pohon berusia 7tahun yang telah diinduksi tidak kurang dari Rp 20 juta. Di pasaran dalam negeri, kualitas gaharu dikelompokkan menjadi 6 kelas mutu, yaitu Super (Super King, Super, Super AB), Tanggung, Kacangan (Kacangan A, B,dan C), Teri (Teri A, B, C, Teri Kulit A, B), Kemedangan (A, B, C) dan Suloan.

Teknologi yang dihasilkan diyakini dapat meningkatkan nilai ekonomis pohon secara signifikan yang selanjutnya dapat menjadi insentif kepada masyarakat maupun pengusaha untuk menanam dalam jumlah yang lebih besar. Badan Litbang Kehutanan telah melakukan penelitian gaharu sejak tahun 1984 dengan mencari jenis-jenis mikroba pembentuk gaharu. Hingga kini Badan Litbang telah memiliki lebih dari20 isolat mikroba penghasil gaharu dari berbagai daerah di Indonesia,dengan 4 isolat diantaranya dipastikan memiliki kemampuan pembentuk gaharu secara konsisten.

Saat ini Puslitbang Departemen Kehutanan bersama para pembudidaya pohon gaharu di berbagai daerah telah menanam pohon penghasil gaharu tidak kurang dari 1 juta batang.

Melihat keberhasilan Indonesia dalam mengembangkan teknologi ini, International Tropical Timber Organizational (ITTO) menaruh perhatian khusus dan menjalin kerjasama untuk membantu percepatan pengembangan gaharu, baik dari segi budidaya maupun teknologi induksinya. Kerjasama ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat sekitar hutan agar mampu membudidayakan pohon penghasil gaharu sehingga tingkat kesejahteraannya dapat meningkat secara signifikan sekaligus menjadi salah satu upaya menjaga kelestarian hutan.


Jakarta, 29 April 2009                  

Kepala Pusat Informasi Kehutanan,

Ttd.                       

M a s y h u d                

NIP. 19561028 198303 1 002  

sumber


Tantangan Agribisnis dari Si Wangi Gaharu

Posted by s edo wd on March 16, 2010 at 11:52 PM Comments comments (7)


bibit Aquilaria malaccensis

Gaharu merupakan substansi aromatic berupa gumpalan berwarna coklat muda sampai hitam yang terdapat diantara sel-sel kayu. Tanaman yang bisa menghasilkan gaharu biasa disebut Pohon Gaharu. Sebaran Pohon Gaharu di Asia diantaranya adalah di India, Laos, Burma, Malaysia, Vietnam, dan Indonesia. Sedangkan di Indonesia sendiri Pohon Gaharu tersebar di Pulau Irian, Sumarta, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, maluku dan sedikit di Jawa bagian Barat.

Adapun jenis Pohon Gaharu dan penyebarannya di Indonesia adalah:

1. Aquilaria malaccensis (Sumatra dan Kalimantan)

2. Aquilaria beccariana (Sumatra dan Kalimantan)

3. Aquilaria microcarpa (Sumatra dan Kalimantan)

4. Aquilaria filaria (Irian dan Maluku)

5. Aquilaria cumingiana (Sulawesi)

6. Aquilaria tomntosa (Irian)

7. Grynops audate dan Grynops podocarpus (Irian)

8. Grynops versteegii (Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, dan Irian)

9. Wikstoemia androsaemifolia (Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan

Sulawesi).

 

Dan masih banyak lagi beberapa spesies pohon penghasil Gaharu yang tersebar di kedalaman hutan di Indonesia.

Dari beberapa spesies pohon penghasil gaharu diatas, pohon dari marga Aquilaria memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dan yang paling banyak diburu adalah Aquilaria malaccensis karena gaharu yang dihasilkan memiliki mutu yang sangat baik.

 

Manfaat Gaharu

 

Gaharu mengandung essens yang disebut sebagai minyak essens (essential oil) yang dapat dibuat dengan eksraksi atau penyulingan dari gubal gaharu. Essens gaharu ini digunakan sebagai bahan pengikat (fixative) dari berbagai jenis parfum, kosmetika dan obat-obatan herbal. Selain itu, serbuk atau abu dari gaharu digunakan sebagai bahan pembuatan dupa/hio dan bubuk aroma therapy.

Daun pohon gaharu bisa dibuat menjadi teh daun pohon gaharu yang membantu kebugaran tubuh. Senyawa aktif agarospirol yang terkandung dalam daun pohon gaharu dapat menekan sistem syaraf pusat sehingga menimbulkan efek menenangkan, teh gaharu juga ampuh sebagai obat anti mabuk.

Ampas dari sulingan minyak dari marga Aquilaria di Jepang dimanfaatkan sebagai kamfer anti ngengat dan juga mengharumkan seluruh isi lemari. Oleh masyarakat tradisional Indonesia, gaharu digunakan sebagai obat nyamuk, kulit atau kayu gaharu dibakar sampai berasap. Aroma harum tersebutlah yang tidak disukai nyamuk (sumber: majalah Trubus).

 

Cara Menanam dan Pemeliharaan

 

Pohon penghasil gaharu secara umum tidak memerlukan syarat tumbuh yang khusus, pohon dapat tumbuh dengan baik pada struktur tanah yang ringan sampai berat dengan terkstur lempung ataupun pasir. Secara ekologi dapat tumbuh pada daerah dengan ketinggian 0 - 2.400 meter dpl, kelembapan 60 – 80 % dengan curah hujan 1.000 – 3.500 mm/th.

Penanaman dimulai dengan membuat lubang tanam dengan kedalaman 30 cm, panjang dan lebar lubang 30 cm. Setelah lubang terbuat, isi lubang dengan pupuk organik matang sampai kedalaman lubang menyisakan 15 cm. Kemudian taburkan 1 sdm akarisida (furadan, marshal, atau rugby) untuk melindungi tanaman dari serangan anjing tanah (orong-orong), gasir, dan hama lainnya yang hidupnya di tanah. Setelah penaburan akarisida, bibit tanaman dikeluarkan dari polybag dan usahakan tanah dalam polybag jangan sampai pecah.

Masukan bibit dengan tinggi minimal 30 cm ke lubang dan lubang diurug dengan tanah yang dicampur dengan pupuk organik dengan perbandingan 1:1. Setelah lubang tertutup oleh tanah, taburkan lagi akarisida di sekeliling tanaman sebanyak 1 sdm kemudian siram dengan air. Pemberian akarisida akan melindungi tananam pada masa kritis yaitu sebelum tanaman berumur lebih dari 3 bulan.

Pemeliharaan dilakukan dengan penyiangan dan pemberian pupuk organik setiap 2 bulan dan pemberian pupuk NPK pabrik setiap 4 bulan sampai tanaman berumur 3 tahun dengan dosis disesuaikan. Setelah tanaman berumur lebih dari 3 tahun pemberian pupuk dilakukan setiap 6 bulan dengan dosis 250 gram/pohon ditabur disekitar pangkal pohon kemudian ditutup dengan tanah.

Usahakan tanaman mendapatkan air yang cukup dan jangan sampai terendam air pada saat musim hujan.

 

Pembentukan Gubal

 

Gubal gaharu akan dihasilkan oleh pohon penghasil gaharu yang terinfeksi mikroba fusarium sp, datangnya mikroba fosarium sp ini bisa secara alami dan dengan menyuntikan mikroba ke pohon yang tentunya bertujuan agar pohon terinfeksi fusarium sp. Selang waktu 1-3 tahun setelah disuntik gubal gaharu baru terbentuk.

 

Kelas, harga dan pemasaran gaharu

 

Permintaan pasar terhadap gaharu terus meningkat. Selain kebutuhan peribadatan berberapa agama, gaharu juga digunakan oleh masyarakat Arab untuk sebagai siwak. Kondisi iklim yang panas dan kegemaran mengkonsumsi daging membuat tubuh mereka bau menyengat sehingga wangi gaharu digunakan sebagai pangharum.

Harga gaharu sendiri ditentukan berdasarkan kelas, adapun kelas-kelas dalam gaharu secara garis besar adalah:

1.Gubal

a.super: hitam merata, kandungan damar wangi tinggi, aroma kuat

b.super AB: hitam kecoklatan, kandungan damar wangi cukup, aroma kuat

c.sabah super: hitam kecoklatan, kandungan damar wangi sedang, aroma agak kuat

d.kelas C: hitam banyak garis putih, kepingan kayu tipis, rapuh

 

2.Kemedangan

a.tanggung A: coklat kehitaman, kandungan damar wangi tinggi, aroma agak kuat

b.sabah I: coklat bergaris putih tipis, kandungan damar wangi sedang, aroma agak kuat

c.tanggung AB: coklat bergaris putih tipis, kandungan damar wangi sedang, aroma agak kuat

d.tanggung C: kecoklatan bergaris putih tipis, kandungan damar wangi sedang, aroma agak kuat

e.kemedangan I: kecoklatan bergaris putih lebar, kandungan damar wangi sedang, aroma agak kuat

f.kemedangan II: putih keabu-abuan bergaris hitam tipis, kandungan damar wangi kurang, aroma kurang kuat

g.kemedangan III: putih keabu-abuan, kandungan damar wangi kurang,aroma kurang kuat

 

3.Abu/cincangan yang merupakan potongan kayu kecil hasil pengerokan atau sisa penghancuran kayu gaharu

(sumber: majalah Trubus)

Harga gaharu terus meningkat seiring dengan permintaan pasar, namun ketersediaan gaharu dari alam terus menurun, hal inilah yang mendasari budidaya gaharu. Harga gaharu super pada tahun 2001 4-5jt/kg, saat ini melambung menjadi 10-15jt/kg. Tapi sayang, peluang seperti ini Cuma diketahui oleh beberapa gelintir orang saja.

Adapun negara tujuan eksport gaharu diantaranya adalah Singapura, Timur Tengah, Taiwan, Jepang, Hongkong, Korea dan Malaysia. Adapun eksport terbanyak ke negara Singapura baru Timur Tengah di urutan ke-2.

 

gambar gaharu

sumber


Rss_feed